Powered By Blogger

Rabu, 04 November 2009

my teacher,my friend,my hero is : my mother



Perasaan kehilangan itu baru bisa kita rasakan jika kita tidak lagi bersama. Keberadaan seseorang akan terasa wujudnya jika ia tidak lagi berada di dekat kita. Lewat kenangan-kenangan yang tercipta, baik suka maupun duka, kita akan dapat menilai betapa berharganya seseorang dalam kehidupan kita, terlebih jika seseorang itu adalah orang yang sangat dekat, seseorang yang sangat mulia, seseorang yang berarti, seseorang yang bernama ibu......

Tanggal 04 novwmber 2008, tepat satu tahun ibu meninggalkan kami keluarganya. Bapak, kami ketiga anak-anaknya,serta para keluarga dan para sahabatnya pasti akan mengakui bahwa sosok ibu adalah sosok yang tak terlupakan, sosok yang selalu membawa keceriaan pada orang di sekelilingnya, sosok yang ‘menyeramkan’ namun baik hati, sosok yang jauh di mata namun dekat di hati, sosok yang.... Ah, mungkin akan banyak kata untuk melukiskan sosok ibu. Yang jelas, ibu adalah seorang ibu rumah tangga yang banyak memiliki kebaikan tapi tetap memiliki kekurangan, dan yang terpenting adalah ibu adalah orang yang melahirkan saya,kakak saya,dan adik saya.

Kehadiran ibu memang kuat di hati saya. Keberadaan ibu selama 18 tahun bersama saya sedikit banyak berpengaruh pada pribadi saya. Terlepas dari kekurangan ibu sebagai manusia, ibu tetaplah ibu, ibu yang melahirkan saya, yang mengandung saya selama 9 bulan, yang melahirkan saya dengan susah payah, meskipun ibu tidak sepenuhnya merawat anak-anaknya (hal ini yang sering ‘diprotes’ oleh adik saya). Tapi saya harus mengakui, dari ibulah saya bisa belajar mandiri, berani, pantang menyerah, menjadi pribadi yang tidak cengeng, tidak mudah mengeluh dan tegar.

Sosok ibu memang 'fenomenal', tidak ada duanya, tidak ada yang bisa menggantikannya. Saya tahu betul bagaimana kehidupan ibu sejak kecil, beliau sering menceritakan hal itu berulang-ulang kepada anak-anaknya. Jika sedang bercerita tentang masa kecilnya, ibu terlihat sangat gembira dan terkadang juga sedih, sinar matanya memancarkan kebahagiaan diiringi oleh tawa lepas khasnya. Saya bersyukur,Ibu sering bercerita apa saja pada saya. Ibu juga suka bersilaturrahim ke handai taulannya. Karena seringnya saya menemani ibu, saya ‘tertular’ sifatnya, menyapa semua orang yang bertemu di jalan! Yah.. ibu memang paling suka menyapa semua orang, mulai dari anak-anak sampai orangtua. Ibu orang yang ramah pada lingkungannya, meski bisa juga berubah ‘galak’ jika merasa ada yang tidak ‘beres’ pada lingkungan sekitarnya.

Ibu juga sosok yang ‘ngangenin’ kalau jauh. Ketika sekolah, saya termasuk orang yang suka membantah ibu, kadang-kadang juga bertengkar mulut (mudah-mudahan Allah memaafkan saya...), saya merasa kehilangan.

Di kalangan teman-teman sekolah saya di SMP, SMA,ibu terkenal sebagai sosok yang menyenangkan dan ramah. Ibu kenal akrab dengan semua teman-teman saya. Mereka sering bertandang ke rumah dan ibu selalui menemui mereka sambil sesekali bercanda. Tak heran jika teman-teman saya sering berkata, “Wah.... fi, nyokap loe enak ya diajak gaul. Enak banget loe punya nyokap kaya temen gitu!”, begitu pujian mereka pada ibu.

Ibu bukan sosok yang pendendam. Ibu seperti memiliki segudang maaf untuk orang-orang yang menyakitinya, apalagi pada anak-anaknya yang sering kali menyakiti perasaannya. Pernah, ibu dan saya terlibat pertengkaran kecil, dan setelah itu ibu berubah menjadi sosok yang pendiam dan tidak banyak berkata-kata. Ketika itu, sayapun memiliki perasaan yang amat sangat menyesal, hati saya tidak tenang karena telah melukai perasaan ibu. Saya pun kemudian minta maaf sambil mencium tangannya. Dan beliau dengan naluri keibuannya memaafkan saya, anaknya

Ibu juga seorang yang religius meskipun pengetahuan tentang agamanya sedikit. Dengan yang sedikit itulah ibu mengamalkannya, meyakini bahwa Allahlah satu-satunya tempat memohon pertolongan. Hal ini amat ditekankan pada kami anak-anaknya. Tidak jarang ibu memukul saya jika saya lalai dari menjalankan shalat lima waktu. Ibu selalu menasehati saya, “Jangan pernah lupa berdoa pada Allah karena yang tidak suka berdoa pada Allah adalah orang sombong. Gampang bagi Allah untuk mengabulkan keinginan hamba-Nya. Yang penting kita harus jadi orang yang beriman dan bertaqwa”. Nasehat itu terus terpatri dalam hati saya. Meskipun gaya bahasa dan ajaran-ajaran ibu sangat sederhana mengingat ibu adalah orang yang awam, tapi saya dapat menangkap maksudnya, yaitu selalu jalankan perintah Allah dan jauhi larangan-Nya.

saat malam hari ketika ibu baru pulang mengaji dan saya sedang tidur karna capek habis pulang kerja,terdengar suara ibu yang mambangunkan saya setelah saya bangun ternyata sudah ada kakak saya yang baru pulang kerja.saat saya terbangun ibu sedang memegangi dadanya sambil berkata,"duh dada mama sakit y".ibu terus berkata seperti itu,setelah diberi obat oleh kakak.rasa sakit ibu agak berkurang namun rasa itu berubah menjadi sesak,"mama g bisa nafas ne" saat itu kakak dan saya segera membawa ibu kerumah sakit.saat dalam perjalanan kerumah sakit saya menelefon bapak karna saat itu bapak sedang bekerja dan saya juga memberitau adik yang saat itu sedang belajar kelompok dengan temannya,dalam perjalanan kerumah sakit pikiran saya selalu menerawang.bagaimana nanti kalau ibu benar-benar pergi?saya belum sempat memberi apa-apa,saat tiba dirumah sakit ibu langsung dibawa ke UGD.tak lama dokter memeriksa ibu lalu dia keluar sambil berkata "anak-anaknya mana??lebih baik masuk saja dulu temani ibunya karna..." saat dokter belum menyelesaikan,saya langsung masuk dan saya langsung mengucapkan "Laa ilaa haillallah” ditelinga ibu.saat itu saya langsung terpuruk dan tidak kuat karna sangat terpukul.setelah itu adik dan bapak baru datang dan diberitau bahwa ibu sudah tidak ada Innalillahi wa inna ilaihi raji’un... Sesungguhnya segala yang bernyawa pasti akan diambil oleh Sang Khalik.saat itu baru pertama kali dalam hidup saya,saya melihat bapak menangis
ibu...dari hidup sampai ajalnya datang tidak pernah menyusahkan orang,ternyata ibu sakit tapi tidak mengatakan karna tidak mau merepotkan,seorang perempuan yang sangat berarti bagi saya,kakak dan adik juga bapak kini sudah pergi tak ada lagi nasehat atau omelan2nya yang ada hanya kenangan

Perasaan kehilangan itu kini terasa di hati saya. Saya menyesal belum bisa membahagiakan ibu secara penuh. Kini saya hanya bisa berdoa dan terus berdoa untuk ibu. Mudah-mudahan ibu mendapatkan kelapangan di alam kuburnya, dan amal-amal kebaikan selama hidup dapat diterima Allah SWT sebagai amal shalehnya, amiiiin......

Allahummaghfirlaha warhamha wa afiha wa'fu anha...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar